Senin, 22 Oktober 2018

MAKALAH LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN TEORI BELAJAR DAN MAKNA BELAJAR DALAM PENDIDIKAN



MAKALAH KELOMPOK

MATA KULIAH FILOSOFI DAN LANDASAN PENDIDIKAN

“LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN TEORI  BELAJAR DAN MAKNA BELAJAR DALAM PENDIDIKAN”

DOSEN PEMBINA: MUSTAKIM JM,M.Pd

 
Disusun oleh kelompok 6:
Kezia Grace Ndraha (1888203054)
Ririn Divarianti         (1888203068)

                   FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
PEKANBARU
2018





KATA PENGANTAR


Segala puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa  atas limpahan nikmat sehat-Nya,baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran,sehingga penulis mempu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas mata kuliah Filosofi dan Landasan Pendidikan dengan judul “Landasan Psikologi Pendidikan : Teori Belajar dan Makna Belajar dalam Pendidikan”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat  kesalahan serta kekurangan didalamnya.Untuk itu,penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini,supaya maklah ini nanntinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.demikian,dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besrnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak  khususnya kepada pembimbing Filosofi dan Landasan Pendidikan Bapak Mustakim JM,M.Pd yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.


Rumbai,09 Oktober 2018

penyusun



PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam pelaksanaan tugas
mata kuliah Filosofi dan Landasan Pendidikan dengan pokok bahasan Teori Belajar dan Makna Belajar dalam  Pendidikan.Sehubungan dengan pentingnya mengetahui tentang landasan psikologi dalam pendidikan maka maka pembahasan yang kami lakukan sangat perlu untuk dibincangkan.kita harus tahu apa itu psikologi dan pendidikan.
            Psikologi berasal  dari kata yunani “Psyche” yang artinya jiwa.Logos berarti ilmu pengetahuan.Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ Ilmu yang mempelajari tentang jiwa,baik mengenai gejalanya,prosesnya maupun latar belakangnya”.Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda atau tidak sama (Menurut Gerungan dalam khodijah : 2006) karena Ilmu jiwa adalah ilmu jiwa secara luas termasuk khayalan dan spekulasi yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah.
            Landasan psikologi dalam pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan  dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
Menurut pandangan ilmu psikologi bahwa pendidikan adalah :                             1) proses yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan kemampuan, sikap,   dan perilaku yang bernilai positif dalam masyarakat dimana orang itu hidup                   
2)menyiapkan individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya                                    
3)  proses pertumbuhan kekuatan, kemampuan dan minat (Mantja, 2001).                           
Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia,dengan pendidikan manusia dapat memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya.Banyak para pendidik yang memaksakan kehendaknya kepada peserta didik untuk melakukan hal yang mereka inginkan sedangkan peserta didik  sendiri tidak membutuhkannya. Maka setiap guru dituntut untuk memahami teori psikologi pendidikan agar potensi  yang ada pada peserta didik dapat dikembangkan berdasarkan tahap perkembanganya.                       Karena itu dalam pembelajaran ini kami akan membahas makalah tentang teori belajar dan makna belajar dalam  dari  landasan psikologis pendidikan
A.      Rumusan masalah
1.    Bagaimana penjelasan psikologi perkembangan dalam  pendidikan?                                    2.    Apa pengertian psikologi belajar ?                                                         
            3.   Penjelasan tentang teori belajar dari para ahli.                                        
            4. Apa pengertian makna belajar ?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.    Pengertian Teori                                                                                                                 
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel,definisi,yang saling berhubungan yang meghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antara variabel,dengann menentukan hubungan antar variabel,dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis”yang mereka definisikan sebagai “menentukan”bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.                                                                                        
Kata teori memiliki arti yag berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan  yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi.Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta.Selain itu,berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara “sementara” dan bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan,berbeda dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.Sedangkan secara spesifik da dalam ilmu sosial, terdapat pula teori sosial.Neuman mendefinisikan teori sosial adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaitan abstraksi atau ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial,perlu diketahui bahwa teori berbeda dengan idiologi  seorang peneliti kadang-kadang bias dalam membedakan teori dan ideologi.Terdapat kesamaan di antara keduanya, tetapi jelas mereka berbeda.Teori dapat merupakan bagian dari ideologi, tetapi ideologi bukan teori.Contohnya adalah Aleniasi manusia adalah sebuah teori yang diungkapkan oleh Karl Marx,tetapi Marxis atau komunisme secara keseluruhan adalah sebuah ideologi.
2.2  Pengertian Teori Belajar                                                                                               Belajar adalah proses sadar seorang individu unttuk merubah perilaku menjadi lebih baik.Menurut Skinner belajar adalah suatu perilaku. Pada saat belajar,maka responya menjadi lebih baik,sebaliknya,ila ia tidak belajar  maka responnya menurun.Dalam belajar ditemukan adanya hal-hal berikut.                                             
 a. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon peserta didik               
 b. Respon si peserta didik                                                                                        
 c. Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tesebut.Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi,perilaku respon anak didik yang baik diberi hadiah,sedangkan perilaku respon yang tidak baik diberi teguran atu hukuman.                                                                                                                               
Menurut Gagne,”Learning is a change in human disposition or capability that persist over a periode of time and is not simply ascribable to proccess” belajar adalah kegiatan yang kompleks,hasil belajar berupa kapabilitas.Setelah belajar,orang memiliki pengetahuan,keterampilan,sikap,dan nilai.Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh peserta didik.Dengan demikian,belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan melalui pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru. Tiga komponen penting dalam belajar Menurut Gagne,yaitu kondisi internal,kondisi eksternal,dan hasil belajar.                                                                                                   
Tiga point pertama merupakan faktor-faktor eksternal dan poin ke-4 sampai poin ke-8 merupakan faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan belajar.Faktor eksternal  lebih banyak ditangani oleh guru,sedangkan faktor internal dikembangkan sendiri oleh anak dibawah arahan dan strategi mengajar dalam mendidik.                           
Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar.prinsip-prinsip belajar ini selanjutnyanya lazim disebut dengan Teori Belajar.                                              
prinsip belajar menurut Gagne sebagai berikut :                                
~ Kontiguitas,memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang respon anak yang diharapkan,beberapa kali secara berturut-turut             
~ Pengulangan,situasi dan respon anak diulang-diulang atau dipraktikan agar belajar lebih sempurna dan lebih tahan lama diingat                                                          
~ pengutan,respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu                                                     
 ~  Motivasi positif da percaya diri dalam belajar                                                       
~ Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak                               
 ~ Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar,seperti epersepsi dalam mengajar                                                                                       
~ Ada strategi yangvtepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam faktor  dalam pengajaran 
 ~ Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam   pengajaran.                                                                                                                         
Teori belajar yang  telah disusun secara sistematik ( Callahan 1983,dalam Made Pidarta 2013) adalah sebagai berikut :                                   
a. Teori Belajar Klasik                                                                                           
1. Teori Belajar Displin  mental Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti.Menurut teori ini individu atau anak memiliki sejumla daya mental pikiran,ingatan,perhatian,kemampuan,keputusan,observasi,tanggapan,dan sebagainya.Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan.Sehingga belajar juga kadang disebut melatih daya.                                                           
2.  Teori Belajar Displin Mental Humanistik bersumber dari aliran Psikologi Humanistik Klasik ciptaan Plato dan Aristoteles.Teori ini sama seperti teori displin Theistik,semakin sering melatih daya,maka daya akan semakin kuat,dengan daya yang kuat,kemampuan memecahkan berbagai pemasalahan,yang  berbeda hanya pada proses latihannya.Pada Displin Theistik,melatih daya anak hanya pada bagian demi bagian dari potensi anak,Displin Humanistik menekankan pada kesuluruhan sebagai potensi individu secara utuh.                                                      
3. Teori Belajar Naturalis atau Aktualisasi diri pangkal dari Psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Rousseau.Menurut teori ini setiap anak memiliki sejumlah potensi atas kemampuan.Kemampuan pada anak selain dilatih oleh guru, harus dikembangkan oleh anak itu sendiri.Guru harus menciptakan situasi yang permisif atau rileks, sehingga anak dapat berkembang secara bebas dan alami.                                                                                                                       
4. Teori Belajar Apersepsi berasal dari Psikologi Struktur ciptaan Herbart .Psikologi memandang,jiwa manusia merupakan struktur yang bisa  berubah dan bertambah melalui belajar.Belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga membentuk struktur baru dalam jiwa anak atau dengan kata lain disebut belajar membentuk apersepsi.                                                                                                  Langkah-langkah belajar menurut Herbart,sebagai berikut :                                                 
*  Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan cermat                                   
*  Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anka-anak merasa jelas memahami pelajaran,yang memudahkan  asosiasi-   asosiasi baru                                 
  *  Asosiasi-asosiasi  baru terbentuk  antara materi yang dipelajari  dengan jiwa atau apersepsi anak yang telah ada                                                    
*  Mengadakan generalisasi,pada saat ini terbentuklah suatu strukturbaru dalam jiwa anak                   
 *  Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur   terbentuk semakin kuat

B.Teori Belajar Modern                                                                                                       Teori Belajar              Asosiasi atau R.S. Bond,teori ini dicetuskan oleh kelompok Behavioris,dengan tokoh terkenalnya Thorndike.Menurut teori ini,belajar akan terjadi jika ada kontak hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang diluar,karena itu kelompok ini juga menamakan R.S. Bond, R adalah respons orang bersangkutan ,S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan Bond adalah hubungan atau asosiasi.Psikologi ini juga disebut Psikologi Koneksionisme atau Asosiasisme.                                                                 
Tiga hukum belajar menurut Thorndike,yaitu :                                 
·         Hukum Kesiapan,artinya setiapa anak harus disiapkan terlebih dahulu sebelum menerima pelajaran baru.Kesiapan anak itu terjadi pada sistem urat syaraf,karena semakin anak siap hubungan antara stimulus dan respons anak semakin mudah terbentuk
·         Hukum  Latihan atau pengulangan.Hubungan antara stimulus dan respons akan semakin mudah dibentuk bila hubungan itu terus diulang dan dilatih
·         Hukum Dampak.Hubungan antara stimulus dan respons akan terjadi bila hubungan itu memberikan dampak menyenangkan                      
2.3 Teori Belajar Behaviorisme                                                                                       
  
Teori belajar behaviorisme merupakan teori belajar yang telah cukup lama dianut oleh para pendidik.Teori ini dicetuskan oleh Gagne dan Berliner yang berisi tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini mengutamakan pengukuran,  sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku.Teori Behaviorisme  dengan model hubungan stimulus responnya,mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasan semata.Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan pengutan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.                                 
 Behaviorisme merupakan salah  satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah,dan mengabaikan aspek-aspek mental.Dengan kata lain,behaviorisme tidak mengakui adanya  kecerdasan,bakat,minta dan perasaan individu dalam suatu belajar.                                   
Menurut teori behaviorisme belajar adalah perubahan tingkah lakiu sebagai hasil dari pengalaman belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukakan perubahan perilakunya.Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting  untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan  tidak dapat diukur.yang dapat diamati adalah stimulus dan respon,oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur.
      Tujuan pembelajaran menurut teori behaviorisme ditekankan pada penamabahan pengetahuan,sedangkan belajar sebagai aktivitas yang menuntut pembelajaran untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan,kuis,atau test.penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian keseluruan.
            Prinsip-prinsip dalam teori Behaviorisme :                                                         
 > Objek  psikologi adalah tingkah  laku                                                                    
 > Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek                                              
 >  Mementingkan pembentukkan kebiasaan                                                                          
>  Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri                                                      
>  Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik harus dihindari
2.4 Teori Belajar Kognisi                                                                                                     Teori belajar kognisi,diciptakan oleh  Bruner teori ini menekankan pada cara individu mengorganisasikan apa yang telah ia alami dan pelajari.Sistem pengorganisasian merupakan knci untuk memahami tingkah laku seseorang dan sebagai alat untuk berfikir untuk memecahkan masalah.Pendidikan harus mengembangkan keteramapilan berfikir,untuk itu dibutuhkan pelajaran yang teroganisasi dan saling berhubungan satu dengan lain.                                                           
Teori Belajar Bermakna,diciptakan oleh Ausubel.Teori ini menekankan pada perorgaisasian pengetahuan yang didapat.Orgaisasi atau struktur kognisi ini dipandang sebagai faktor utama dalam belajar dan mengingat materi-materi baru yang bermakna
2.5  Teori Belajar Konstruktifis                                                                                         
Teori Belajar Konstruktifis adalah  teori belajar yang membiasakan peserta didik bertindak seperti ilmuan.Peserta didik mencari sendiri ilmu  dengan menganalisis fakta-fakta yang ada,kemudian mensintesis,lalu mengambil kesimpulan.Jadi mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan mereka 2.6  Teori  Belajar Konstruktivisme                                                                          
Menurut cara pandang  teori Konstruksivisme  belajar adalah proses untuk membangunin pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan.Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat.Konstruktisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan pendekatan yang mempermosikan learning by doing.Teori ini memberikan kektifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi,pengetahuan atau teknologi,dan hal ini yang diperlakukan guna mengembangkan dirinya sendiri.                                                                                           
Adapun prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme adalah :                        
a.  Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri                                                             
b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid,kecuali hanya  dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar                                                      
c. Murid aktif mengkontruksi secara terus menerus, sehingga sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah                                                             
d. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa                                                  
e. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan                                     
f. Mencari dan menilai pendapat siswa                                                              
g. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa


d.    Teori Kognitif Bruner
            Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan atas dua asumsi. Asumsi pertama ialah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan paham para penganut teori Behaviour, Bruner yakin bahwa siswa yang belajar berinteraksi dengan lingkungan yang secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri siswa sendiri. Asumsi  kedua  ialah bahwa siswa yang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya (mode of work). Dengan menghadapi aspek dari lingkungan, siswa akan membentuk suatu struktur atau model. Dengan model tersebut dapat disusun hipotesis, untuk memasukkan pengetahuan baru kedalam struktur-struktur, dengan memperluas struktur-struktur itu atau dengan mengembangkan struktur atau sub struktur baru.
            Bruner menyebutkan dalam belajar terdapat hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberikan arti. Dalam proses interaksi dengan lingkungan maka siswa mengembangkan model dalam (inner mode) atau sistem koding untuk menyajikan pengetahuan sebagaimana yang diketahuinya.
            Menurut Bruner, kategorisasi dapat membawa siswa ke tingkat yang lebih tinggi dari pada informasi yang diberikan. Siswa menentukan objek-objek itu dengan suatu kelas/kelompok. Bila siswa mengklasifikasikan suatu objek, maka siswa membuat sekumpulan sifat-sifat, atribut-atribut dan hubungan-hubungan. Siswa melakukan hal tersebut melalui inferensi, menemukan lebih banyak mengenai segala sesuatu tentang objek tersebut.  
            Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah: (1) memperoleh informasi baru (2) tranformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
           
 Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki siswa, atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki siswa.
Dalam transformasi pengetahuan, seorang siswa memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara siswa memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Siswa menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan dengan menilai apakah cara siswa memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.
Bruner menyebutkan pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu (1) pengetahuan siswa tentang lingkungannya didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan siswa, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan siswa yang bersangkutan.
Persepsi siswa tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Dalam proses ini, siswa menyusun suatu hipotesis dengan menghubungkan data inderanya pada model-model yang telah disusunnya, lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat-sifat tambahan dari peristiwa itu. Siswa itu tidak dipandang sebagai organisme aktif yang pasif, tetapi sebagai seorang yang memilih informasi secara aktif dan membentuk hipotesis perseptual.
e.    Teori Belajar Bermakna (Ausubel)
Ausubel mencetuskan gagasan belajar penerimaan verbal bermakna (meaningful verbal reception learning). Ausubel menyatakan bahwa cara belajar ini merupakan proses yang aktif karena meliputi: (1) analisis kognitif untuk menentukan aspek struktur kognitif  yang  berhubungan dengan materi baru, (2)penyesuaian materi baru dengan struktur kognitif yaitu mengetahui persamaan dan perbedaan antara konsep baru dan konsep yang sudah diketahui
sebelumnya, dan(3) perumusan kembali materi belajar sesuai dengan latar belakang intelektual serta kosa kata yang dimiliki oleh siswa.

Dalam teori belajar bermakna, dasar pemikiran utama adalah bahwa konsep/informasi baru harus berhubungan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif, oleh karena itu, Ausubel  menjelaskan faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna dan penyimpanan informasi adalah struktur kognitif itu sendiri. Bila struktur kognitif ini jelas, mantap dan tersusun dengan baik akan timbul pemahaman yang tepat dan jelas yang dapat mempertahankan kekuatan atau keberadaannya. Sebaliknya, bila struktur kognitif tidak tersusun dengan baik, hal ini akan menghambat belajar bermakna dan penyimpanan informasi baru.
Ausubel menjelaskan cara terbaik untuk memperkuat struktur kognitif adalah dengan menggunakanadvance organizersyang sesuai serta jelas. Advance organizers ini dapat membantu siswa dalam mempelajari konsep dari materi baru secara bermakna dengan menghubungkan konsep tersebut dengan aspek yang sesuai dari struktur kognitif siswa. Dengan kata lain, advance organizersdapat mengaktifkan serta menguatkan struktur kognitif siswa dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan konsep dari materi baru untuk dijadikan ideational scaffoldin

C.Tugas-tugas pokok perkembangan dapat dibagi berdasarkan aspek perkembangannya. Berikut tugas-tugas perkembangan berdasarkan aspek perkembangan dilihat dari tingkat perkembangannya:
1.      Tingkat perkembangan bayi
a. Motorik : belajar berjalan; berbicara
b. Mental : pembentukan konsep-konsep sederhana tentang realitas lingkungan sosial maupun fisik
c. Sosial : belajar untuk berhubungan dengan orang lain
2.      Tingkat perkembangan anak-anak
1.      Motorik : Mengembangkan dan mempersiapkan keterampilan fisik
2.      Mental : Perkembangan keterampilan mendasar dalam membaca, menulis dan berhitung
3.      Sosial : Mulai adanya kerjasama dengan kelompok sebaya
3.      Tingkat perkembangan adolesensi
1.      Motorik : Pertumbuhan menjadi cepat dan perubahan fisik pada masa pubertas
2.      Mental : Perkembangan keterampilan dalam persiapan karier
3.      Sosial : Secara emosional anak lebih bebas dari orang tuanya karena adanya hubungan baru dengan kelompo sebayanya
4.      Tingkat pertumbuhan dewasa awal
a.       Mental : memulai mengenali jabatan dan peranan dalam masyarakat
b.      Sosial : mulai membentuk gaya hidup orang dewasa, dapat menentukan lawan jenis dalam kelompok sosialnya

D.     Pemahaman terhadap Perkembangan Pribadi Anak
Pemahaman dunia anak bukan sebagai makhluk biologis, malainkan sebagai makhluk psikis dan spiritual.
Secara umum perkembangan kehidupan anak dapat dibagi ke dalam periodisasi sebagai berikut:
1.      Anak bayi (0-1 tahun)
Pada periode ini anak menggunakan kemampuan lahiriah (insting) seperti sosial, sebagai alat untuk memungkinkan anak berkomunikasi dengan lingkungannya; meniru, yaitu anak suka meniru perbuatan orang-orang terdekatnya sebagai proses belajar;
refleks, yaitu suatu reaksi otomatis dari bagian-bagian badan tertentu bila terkena rangsangan; kemampuan belajar, meningkatkan keterampilan yang menyangkut
gerak-gerik badan serta anggota badan lainya seperti tangan dan kaki; dan potensi perluasan dunia, yaitu penjelajahan ruang; serta perkembangan bahasa.
2.      Kanak-kanak (1-5 tahun)
Usia pra sekolah sebagai periode peralihan dari bayi ke usia anak sekolah. Periode ini mempunyai tiga ciri khas yang tidak terdapat pada periode lain, yaitu perkembangan emosi kegembiraan hidup, kebebasan dan fantasi. Selain itu, pada periode ini berkembang pula daya penginderaan dan perkembangan bahasa.
3.      Anak sekolah (6-12 tahun)
Periode ini oleh Kohnstamm disebut periode “intelektual” karena sebagian besar waktu dipergunakan untuk pengembangan kemampuan intelektualnya. Anak pada umur ini mudah melaksanakan tugas yang diberikan dan apabila mereka berada pada lingkungan yang baik, akan mudah belajar berbagai kebiasaan. Namun, apabila pada usia ini terjadi kesalahan pendidikan akan timbul berbagai masalah perilaku.
4.      Remaja atau adolensensi (12-18 tahun)
Kohnstamm menyebut periode ini sebagai periode sosial karena dalam masa ini anak mempunyai minat pada hal-hal kemasyarakatan. Pada masa ini, remaja sangat menonjol perkembangan hormon sexnya sehingga mulai tertarik pada lawan jenis. Bersamaan dengan itu, anak juga mengalami pertumbuhan jasmani yang cepat. Dalam perkembangan moralnya, anak mulai mengenali nilai-nilai rohani.
2.7    Makna Belajar                                                                                                         
  
Belajar sudah sudah tak asing lagi kita degar dikalangan pelajar.Belajar selalu kita lakukan,tapi kita belum mengetahui makna,apa itu belajar ?.Beberapa ahli mendefinisikan arti  belajar, diantaranya :                                                                     
1. WJS Poerwadarminta (1953),dalam kamusnya menyatakan belajar adalah berusaha  (berlatih dan sebagainya) supaya memperoleh suatu kepandaian  Dan bila dilacak dari kat dasarnya “ajar”, maka “belajar” diberi arti :                            
a. Berusaha supaya beroleh kepandaian ( ilmu ) dengan menghapal (melatihdiri),seperti dalam “belajar membaca”atau”belajar ilmu  pasti”                                                                               
b. Berlatih,misalnya dalam“belajarberenang”dan“belajar berkenalan”

          
  2. Ernest R.Hilgard (1948),menyatakan learn is the proccess by which an activity originate or is a change through training procedures (whether in the laboratorynor in the natural environment) as distinguished fromchange by  factors not attributable to training                                                    
 3. Cronbach,1954.learn is shown by a change in behavior as a result of   experience                             4. Witherington menjelaskan belajar adalah suatu perubahan didalam  kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksiyang berupa kecakapan,sikap,kebiasaan,kepandaian,atau suatu  pengertian.
Dari pendapat diatas, agaknya makna belajar hampir semua sama dipertalikan dengan “ proses perubahan” .perubahan dalam hal apa ?                                                        
a. Aspek Pengetahuan                                                                                                
b. Aspek Sikap/Kemauan                                                                                           
c. Aspek Perilaku,Praktek,dan Ketrampilan                                                              
d. Perubahan pada aspek kinerja untuk kerja / performance             
Hasilnya untuk sementara dapat dirangkum menjadi satu :                          
Belajar adalah proses pertumbuhan atau perubahan agar tahu,agar mau,agar bisa dan agarberhasil.Atau dengan menempatkan manusia sebagai titik sentral dari proses pembelajaran,maka pengertian belajar mungkin juga bisa dipahami sebagai  proses perubahan dan atau pertumbuhan manusia dari keadaan yang potensial (human being) menjadi aktual ( being human ) atau proses pemanusiawian manusia agar ia menjadi manusia sepenuhnya ( fully human being                     Dengan  memperhatikan pengertian diatas  tidak terlalu aneh jika sebagian ( besar?) anggota masyarakat mempersamakan begitu saja kata “ belajar”dengan “sekolah”.Bukankah “sekolah” umumnya dari ( dari tingkat sd sampai universitas) dipahami sebagai tempat “belajar”dalam arti memperoleh ilmu pengetahuan alam,sosial,dan lainnya,secaraformal ? “Belajar”juga dipersamakan dengan “kursus” dan “pelatihan” dalam arti berlatih untuk memperoleh keterampilan tertentu,baik yang bersifat teknis seperti kursus komputer, maupun yang non-teknis seperti pelatihan komunikasi dan manajemen,yang sifatnya non-formal.Masalahnya, dengan mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan proses pendidikan yang bersifat fomal dan non-formal,kita bisa melupakan sama sekali dimensi informal dari pendidikan yang justru paling penting dan merupakan dasardari keduanya.                         
Karena itu untuk mudahnya saya mengusulkan agar kata “belajar” kita pahami dalam sedikitnya empat arti,yakni : pertama,mengejar pengetahuan diri sebagai manusia (learning to be);kedua,memperkuat solidaritas dan tali silahturami sebagai makhluk
sosial ( learning how to live together );ketiga,meningkatkan pengetahuan(learning how to think and learn);dan keempat,meningkatkan keterampilan (learning how to do).
            Arti pertama dan kedua menunjukan pada dimensi informal ( baca : pendidikan),yakni proses pembelajaran diluar lembaga-lembaga formal maupun non-formal.Arti ketiga menujuk pada dimensi formal (baca : pengajaran),dan arti terakhir menujukkan pada dimensi non-formal ( baca : pelatihan).Jadi,”belajar” yang sesungguhnya tidak dapat dan tidak mungkin dimonopoli sepenuhnya oleh lembaga-lembaga persekolahan yang formal itu.Tidak juga cukup bila ditambahkan dengan
pelatihan-pelatihan dilembaga non-formal,tetapi harus berbasiskan  keluarga dan masyarakat dimana hubungan antar pribadi berlangsung secara informal.Manajemen pendidikan berbasiskan sekolah mungkin penting,namun hal itu hanya merupakan sebagian dari proses pembelajaran dan pendidikan dalam artinya yang lebih dalam.
            Keempat makna belajar diatas itulah yang membuat saya berkeyakinan bahwa pada hakikatnya manusia itu dilahirkan pertama-tama sebagai makhluk pembelajar.Ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat dan memang haru s”belajar”.Hal itu saya tegaskan dengan menggunakan istilah “manusia pembelajar” dan dalam buku menjadi   
Manusia pembelajar (kompas, 2000),istilah “manusia pembelajar”itu saya definisikan sebagai : setiap orang yang bersedia menerima tugas dan tanggung jawab untuk melakukan  dua hal penting ,yakni : berusaha mengenali hakikat dirinya,potensi talentadan bakat-bakat terbaiknya,dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang berapa pertanyaan eksistensial “seperti siapakah aku ?” dan lain-lain.kedua ,berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan  segenap bakat-potensi-talenta-nya itu,mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-sepenuhnya,seutuh-utuhnya,dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dngan segala sesuatu yang’bukan dirinya
Tugas dan tanggung jawab pertama diatas membawa setiap pribadi pada perenungan diri agar ia menyadari keberadaan nya sebagai “apa” dan “siapa”. Tugas dan tanggung jawab kedua diatas membawa manusia untuk menampilkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri sekaligus saling bergantung dengan lingkungan hidup di sekitar nya. Dan “belajar” dalam konteks ini tak lain adalah mengusahakan agar tampilan kepribadian itu mencerminkan hakikat atau jati diri manusia itu.
            Tugas dan tanggung jawab kedua tersebut melekat pada keberadaan manusia pribadi . Takbisa, dan memang tidak mungkin, ia mendelegasikan hal itu kepada pribadi atau pihak lain yang bukan dirinya. Sebab saya menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa menurut kodrat nya, manusia memang memiliki tugas untuk membentuk dirinya sendiri. Dan karena ia pada dasarnya adalah unfertiges wesen, makhluk yang tidak siap, maka ia perlu belajar dalam arti mempersiapkan dirinya untuk tugas memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Dan belajar dalam hal ini merupakan proses mengalami “ metanoia” paradigma repentance “alias pertobatan secara moral spiritual”. Belajar bukan hanya sekedar memperoleh ilmu pengetahuan, meski itu sangat penting. Belajar bukan sekedar meningkatkan keterampilan meski itu juga penting.
            Pada titik ini kita mungkin dapat memahami mkna yang lebih dalam dari belajar. “belajar” tak lain adalah proses pemanusiawian diri sendiri dan sesama secara serentak. Belajar adalah proses mengakui kesalahan dan bersedia meninggalkan yang salah dengan cara berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Bahwa untuk itu diperlukan pengetahuan dari lembaga-lembaga pengajaran formal sudah pasti diperlukan keterampilan atau skill yang bisa diperoleh lewat pembelajaran dalam suasana informal, pertama-tama dikeluarga dan kemudian dalam masyarakat disitulah karakter seseorang dibentuk.
Jadi, makna belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Arti dan makna pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunkan ases pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Mempelajari dalam arti memahami fakta-fakta  sama sekali berlainan dengan menghafalkan fakta-fakta. Keberhasilan suatu program pengajaran diukur berdasarkan tingkatan perbedaan cara berfikir, merasa dan berbuat para pelajar sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman-pengalaman belajar dalam menghadapi situasi yang serupa. Dengan  kata lain, bila suatu kegiatan belajar telah berhasil, maka seharus nya berubah pula cara-cara pendekatan pelajar yang bersangkutan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya. Untuk menangkap isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuam pada rana kognitif,  yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran, atau pikiran yang terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Yang kedua yaitu pada rana avektif, yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian, sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup, dan yang terakhir pada ranah psikomotorik, yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, dan kreativitas. Orang dapat mengamati tingkah laku orang telah belajar setelah membandingkan sebelum belajar. Dengan belajar dari ketiga ranah tersebut maka akan makin bertambah baik berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajardan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu disekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.
Tiap ahli psikologi memberi batasan yang berbeda tentang belajar, atau terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar.
 Diantaranya dapat dikemukakan yaitu, Hilgared dan Markuis berpendapat bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi pada diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri seorang pendidik.


BAB III

PENUTUP

              Pendidikan merupakan salah satu proses yang sangat penting bagi manusia. Maka dari itu pendidikan itu pendidikan itu dimulai dari usia dini sampai akhir hayat.  Suatu pendidikan itu pasti ada metode dan penggolongan-penggolongan untuk usia atau tingkatan.
              Saat ini, teori yang digunakan dalam pendidikan sudah sangat berkembang mengikuti zaman yang semakin modern. Begitu juga pemikiran-pemikiran pada cendikiawan dan ilmuan yang setiap hari tak henti-henti menentukan ide-ide baru yang mempermudah dan membantu kehidupan manusia menjadi yang lebih baik.
              Untuk itu perlu pemahaman dalam memahami perkembangan, tahap, teori maupun aspek-aspek yang terkandung dalam pendidikan. Agar bisa mencapai tujuan dan maksud dari pendidikan itu sendiri. Dan dengan cara belajar maka perilaku akan relatif berubah sebagai hasil dari pengalaman.

3.1. KESIMPULAN


Teori belajar behavioristik atau dikenal juga dengan aliran tingkah laku memaknai belajar sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor yang diberikan lingkungan. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran behavioristik adalah Thorndike, Pavlop, Watson, Hull, Guthrie dan Skinner.
            Teori belajar kognitif, memaknai belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar adalah melibatkan proses berpikir yang kompleks. Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya sangat menentukan hasil belajar. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran kognitif adalah Koffka, Kohler, WertheimerPiaget, Ausubel, Bruner dan Gagne.
            Teori belajar humanistik, memaknai proses belajar  dilakukan dengan memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu. Siswa diharapkan dapat mengambil keputusannya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang dipilhnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran humanistik adalah Kolb, Honey dan Mumford, Habermas, Vygotsky, Rogers.
            Teori belajar konstruktivistik memaknai belajar sebagai proses pembentukan (kontruksi) pengetahuan oleh siswa itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru kepada siswa
            Teori Belajar Cybernetisme memandang otak manusia aktif memproses informasi, namun manusia aktif mencari bukan hanya pasif menerima. Peserta didik menangkap rangsangan melalui panca indranya, baik dalam bentuk obyek benda, data, maupun peristiwa kemudian memperhatikan atau mengabaikan, memilih sebagian atau menerima seluruhnya, dan membuat reaksi dengan membuat respons-respons.


DAFTAR PUSTAKA


Gredler, Margareth E., 2011, Learning And Instruction: Teori dan Aplikasi, terjemahan Tri Wibowo, B.S., Jakarta, Kencana.
Schunk, Dale H., 2012, Learning Theories, an Perspective 6th editions, Boston, Pearson Education, Inc.
Woolfolk, Anita, 2004, Educational Psychology, 9th editions, Boston, Pearson Education, Inc.
Miarso, Yusufhadi, 2009, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, Kencana,.
Hergenhahn, B.R., dan Olson, Matthew H., 2008, Theory Of Learning, Jakarta, Kencana.
 Zaini, Landasan Pendidikan, Yogyakarta: Mitsaq Pustaka, 2011.
             Maunah, Binti, Landasan Pendidikan,Yogyakarta: Teras, 2009.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages