MAKALAH
KELOMPOK
MATA
KULIAH FILOSOFI DAN LANDASAN PENDIDIKAN
“LANDASAN
PSIKOLOGIS PENDIDIKAN TEORI BELAJAR DAN
MAKNA BELAJAR DALAM PENDIDIKAN”
DOSEN
PEMBINA: MUSTAKIM JM,M.Pd
Disusun oleh kelompok 6:
Kezia Grace Ndraha (1888203054)
Ririn Divarianti
(1888203068)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LANCANG KUNING
PEKANBARU
2018
Segala
puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami
kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Penulis
mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas limpahan nikmat sehat-Nya,baik itu berupa sehat fisik maupun akal
pikiran,sehingga penulis mempu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai
tugas mata kuliah Filosofi dan Landasan Pendidikan dengan judul “Landasan
Psikologi Pendidikan : Teori Belajar dan Makna Belajar dalam Pendidikan”.
Penulis
tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan didalamnya.Untuk itu,penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca untuk makalah ini,supaya maklah ini nanntinya dapat menjadi makalah
yang lebih baik lagi.demikian,dan apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besrnya.
Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada pembimbing Filosofi dan
Landasan Pendidikan Bapak Mustakim JM,M.Pd yang telah membimbing kami dalam
menyusun makalah ini.
Rumbai,09
Oktober 2018
penyusun
PENDAHULUAN
Makalah
ini disusun sebagai salah satu syarat dalam pelaksanaan tugas
mata
kuliah Filosofi dan Landasan Pendidikan dengan pokok bahasan Teori Belajar dan
Makna Belajar dalam
Pendidikan.Sehubungan dengan pentingnya mengetahui tentang landasan
psikologi dalam pendidikan maka maka pembahasan yang kami lakukan sangat perlu
untuk dibincangkan.kita harus tahu apa itu psikologi dan pendidikan.
Psikologi berasal dari kata yunani “Psyche” yang artinya
jiwa.Logos berarti ilmu pengetahuan.Jadi secara etimologi psikologi berarti : “
Ilmu yang mempelajari tentang jiwa,baik mengenai gejalanya,prosesnya maupun latar
belakangnya”.Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda
atau tidak sama (Menurut Gerungan dalam khodijah : 2006) karena Ilmu jiwa
adalah ilmu jiwa secara luas termasuk khayalan dan spekulasi yang diperoleh
secara sistematis dengan metode-metode ilmiah.
Landasan
psikologi dalam pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang
membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta
gejala-gejala yang berkaitan dengan
aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk
mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang
bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
Menurut pandangan ilmu psikologi bahwa pendidikan
adalah : 1) proses yang dilakukan seseorang
untuk mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku yang bernilai positif
dalam masyarakat dimana orang itu hidup
2)menyiapkan individu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya 3) proses pertumbuhan kekuatan, kemampuan dan
minat (Mantja, 2001).
Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia,dengan
pendidikan manusia dapat memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya.Banyak
para pendidik yang memaksakan kehendaknya kepada peserta didik untuk melakukan
hal yang mereka inginkan sedangkan peserta didik sendiri tidak membutuhkannya. Maka setiap
guru dituntut untuk memahami teori psikologi pendidikan agar potensi yang ada pada peserta didik dapat
dikembangkan berdasarkan tahap perkembanganya. Karena
itu dalam pembelajaran ini kami akan membahas makalah tentang teori belajar dan
makna belajar dalam dari landasan psikologis pendidikan
A. Rumusan masalah
1. Bagaimana penjelasan psikologi perkembangan dalam pendidikan? 2. Apa
pengertian psikologi belajar ?
3. Penjelasan
tentang teori belajar dari para ahli.
4. Apa pengertian makna belajar ?
2.1. Pengertian Teori
Teori
adalah serangkaian bagian atau variabel,definisi,yang saling berhubungan yang
meghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan
hubungan antara variabel,dengann menentukan hubungan antar variabel,dengan
maksud menjelaskan fenomena alamiah.Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori
sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis”yang mereka definisikan sebagai
“menentukan”bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan
dapat saling berhubungan.
Kata
teori memiliki arti yag berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi
dan konteks diskusi.Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta
yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta.Selain itu,berbeda
dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara “sementara” dan
bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa
teori berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan,berbeda
dengan penarikan kesimpulan pada pembuktian matematika.Sedangkan secara
spesifik da dalam ilmu sosial, terdapat pula teori sosial.Neuman mendefinisikan
teori sosial adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaitan abstraksi atau
ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia
sosial,perlu diketahui bahwa teori berbeda dengan idiologi seorang peneliti kadang-kadang bias dalam
membedakan teori dan ideologi.Terdapat kesamaan di antara keduanya, tetapi
jelas mereka berbeda.Teori dapat merupakan bagian dari ideologi, tetapi
ideologi bukan teori.Contohnya adalah Aleniasi manusia adalah sebuah teori yang
diungkapkan oleh Karl Marx,tetapi Marxis atau komunisme secara keseluruhan
adalah sebuah ideologi.
2.2 Pengertian Teori Belajar Belajar adalah proses sadar seorang
individu unttuk merubah perilaku menjadi lebih baik.Menurut Skinner belajar
adalah suatu perilaku. Pada saat belajar,maka responya menjadi lebih
baik,sebaliknya,ila ia tidak belajar
maka responnya menurun.Dalam belajar ditemukan adanya hal-hal berikut.
a. Kesempatan terjadinya peristiwa
yang menimbulkan respon peserta didik
b. Respon si peserta didik
c. Konsekuensi yang bersifat menguatkan
respon tesebut.Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi
tersebut. Sebagai ilustrasi,perilaku respon anak didik yang baik diberi
hadiah,sedangkan perilaku respon yang tidak baik diberi teguran atu hukuman.
Menurut
Gagne,”Learning is a change in human
disposition or capability that persist over a periode of time and is not simply
ascribable to proccess” belajar adalah kegiatan yang kompleks,hasil belajar
berupa kapabilitas.Setelah belajar,orang memiliki
pengetahuan,keterampilan,sikap,dan nilai.Timbulnya kapabilitas tersebut adalah
dari stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan
oleh peserta didik.Dengan demikian,belajar adalah seperangkat proses kognitif
yang mengubah sifat stimulasi lingkungan melalui pengolahan informasi menjadi
kapabilitas baru. Tiga komponen penting dalam belajar Menurut Gagne,yaitu
kondisi internal,kondisi eksternal,dan hasil belajar.
Tiga point pertama merupakan
faktor-faktor eksternal dan poin ke-4 sampai poin ke-8 merupakan faktor
internal yang mempengaruhi keberhasilan belajar.Faktor eksternal lebih banyak ditangani oleh guru,sedangkan
faktor internal dikembangkan sendiri oleh anak dibawah arahan dan strategi
mengajar dalam mendidik.
Para ahli psikologi
cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia sebagai suatu model
yang menjadi prinsip-prinsip belajar.prinsip-prinsip belajar ini selanjutnyanya
lazim disebut dengan Teori Belajar.
prinsip belajar menurut Gagne sebagai
berikut :
~
Kontiguitas,memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik
tentang respon anak yang diharapkan,beberapa kali secara berturut-turut
~ Pengulangan,situasi dan respon
anak diulang-diulang atau dipraktikan agar belajar lebih sempurna dan lebih
tahan lama diingat
~
pengutan,respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu
~ Motivasi positif da percaya diri dalam
belajar
~
Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak
~
Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar,seperti epersepsi dalam mengajar
~
Ada strategi yangvtepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam faktor dalam
pengajaran
~
Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam pengajaran.
Teori
belajar yang telah disusun secara
sistematik ( Callahan 1983,dalam Made Pidarta 2013) adalah sebagai berikut :
a. Teori Belajar Klasik
1.
Teori Belajar Displin mental Theistik
berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti.Menurut teori ini individu
atau anak memiliki sejumla daya mental pikiran,ingatan,perhatian,kemampuan,keputusan,observasi,tanggapan,dan
sebagainya.Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui
latihan-latihan.Sehingga belajar juga kadang disebut melatih daya. 2.
Teori Belajar Displin Mental Humanistik bersumber dari aliran Psikologi
Humanistik Klasik ciptaan Plato dan Aristoteles.Teori ini sama seperti teori
displin Theistik,semakin sering melatih daya,maka daya akan semakin kuat,dengan
daya yang kuat,kemampuan memecahkan berbagai pemasalahan,yang berbeda hanya pada proses latihannya.Pada Displin
Theistik,melatih daya anak hanya pada bagian demi bagian dari potensi
anak,Displin Humanistik menekankan pada kesuluruhan sebagai potensi individu
secara utuh.
3.
Teori Belajar Naturalis atau Aktualisasi diri pangkal dari Psikologi Naturalis
Romantik yang dipimpin oleh Rousseau.Menurut teori ini setiap anak memiliki
sejumlah potensi atas kemampuan.Kemampuan pada anak selain dilatih oleh guru,
harus dikembangkan oleh anak itu sendiri.Guru harus menciptakan situasi yang
permisif atau rileks, sehingga anak dapat berkembang secara bebas dan alami.
4.
Teori Belajar Apersepsi berasal dari Psikologi Struktur ciptaan Herbart
.Psikologi memandang,jiwa manusia merupakan struktur yang bisa berubah dan bertambah melalui belajar.Belajar
adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga membentuk struktur baru dalam
jiwa anak atau dengan kata lain disebut belajar membentuk apersepsi. Langkah-langkah
belajar menurut Herbart,sebagai berikut :
* Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan
cermat
*
Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anka-anak merasa jelas memahami
pelajaran,yang memudahkan asosiasi- asosiasi baru
* Asosiasi-asosiasi baru terbentuk antara materi yang dipelajari dengan jiwa atau apersepsi anak yang telah
ada
* Mengadakan generalisasi,pada saat ini
terbentuklah suatu strukturbaru dalam jiwa anak
* Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat
agar struktur terbentuk semakin kuat
B.Teori Belajar Modern Teori Belajar Asosiasi
atau R.S. Bond,teori ini dicetuskan oleh kelompok Behavioris,dengan tokoh
terkenalnya Thorndike.Menurut teori ini,belajar akan terjadi jika ada kontak
hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang diluar,karena itu
kelompok ini juga menamakan R.S. Bond, R adalah respons orang bersangkutan ,S
adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan Bond adalah hubungan atau
asosiasi.Psikologi ini juga disebut Psikologi Koneksionisme atau Asosiasisme.
Tiga hukum belajar menurut Thorndike,yaitu :
·
Hukum
Kesiapan,artinya setiapa anak harus disiapkan terlebih dahulu sebelum menerima
pelajaran baru.Kesiapan anak itu terjadi pada sistem urat syaraf,karena semakin
anak siap hubungan antara stimulus dan respons anak semakin mudah terbentuk
·
Hukum Latihan atau pengulangan.Hubungan antara
stimulus dan respons akan semakin mudah dibentuk bila hubungan itu terus
diulang dan dilatih
·
Hukum
Dampak.Hubungan antara stimulus dan respons akan terjadi bila hubungan itu
memberikan dampak menyenangkan
2.3
Teori Belajar Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme merupakan
teori belajar yang telah cukup lama dianut oleh para pendidik.Teori ini
dicetuskan oleh Gagne dan Berliner yang berisi tentang perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting
untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku.Teori Behaviorisme dengan model hubungan stimulus
responnya,mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon
atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasan
semata.Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan pengutan dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
Behaviorisme
merupakan salah satu aliran psikologi
yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah,dan mengabaikan
aspek-aspek mental.Dengan kata lain,behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan,bakat,minta dan perasaan individu
dalam suatu belajar.
Menurut
teori behaviorisme belajar adalah perubahan tingkah lakiu sebagai hasil dari
pengalaman belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan
respon.Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukakan
perubahan perilakunya.Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input
yang berupa stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,sedangkan
respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut.Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati
dan tidak dapat diukur.yang dapat
diamati adalah stimulus dan respon,oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru
(stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan
diukur.
Tujuan
pembelajaran menurut teori behaviorisme ditekankan pada penamabahan
pengetahuan,sedangkan belajar sebagai aktivitas yang menuntut pembelajaran
untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk
laporan,kuis,atau test.penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada
keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian
keseluruan.
Prinsip-prinsip
dalam teori Behaviorisme :
> Objek psikologi adalah tingkah laku
> Semua bentuk tingkah laku
dikembalikan pada reflek
>
Mementingkan pembentukkan kebiasaan
>
Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri
>
Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik harus
dihindari
2.4 Teori Belajar
Kognisi Teori belajar kognisi,diciptakan
oleh Bruner teori ini menekankan pada
cara individu mengorganisasikan apa yang telah ia alami dan pelajari.Sistem
pengorganisasian merupakan knci untuk memahami tingkah laku seseorang dan
sebagai alat untuk berfikir untuk memecahkan masalah.Pendidikan harus
mengembangkan keteramapilan berfikir,untuk itu dibutuhkan pelajaran yang
teroganisasi dan saling berhubungan satu dengan lain.
Teori
Belajar Bermakna,diciptakan oleh Ausubel.Teori ini menekankan pada
perorgaisasian pengetahuan yang didapat.Orgaisasi atau struktur kognisi ini
dipandang sebagai faktor utama dalam belajar dan mengingat materi-materi baru
yang bermakna
Teori Belajar Konstruktifis adalah teori belajar yang membiasakan peserta didik
bertindak seperti ilmuan.Peserta didik mencari sendiri ilmu dengan menganalisis fakta-fakta yang
ada,kemudian mensintesis,lalu mengambil kesimpulan.Jadi mereka mengkonstruksi
sendiri pengetahuan-pengetahuan mereka 2.6
Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut cara pandang teori Konstruksivisme belajar adalah proses untuk membangunin
pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan.Artinya siswa akan cepat
memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada
di dalam masyarakat.Konstruktisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali
diasosiasikan dengan pendekatan yang mempermosikan learning by doing.Teori ini
memberikan kektifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi,pengetahuan atau teknologi,dan hal ini yang diperlakukan guna
mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun
prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme adalah :
a.
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
b.
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid,kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk
menalar
c.
Murid aktif mengkontruksi secara terus menerus, sehingga sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
d.
Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
e. Struktur
pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
f.
Mencari dan menilai pendapat siswa
g.
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa
d. Teori Kognitif Bruner
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan atas dua
asumsi. Asumsi pertama ialah bahwa perolehan pengetahuan
merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan paham para penganut teori
Behaviour, Bruner yakin bahwa siswa yang belajar berinteraksi dengan lingkungan
yang secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga
dalam diri siswa sendiri. Asumsi kedua ialah bahwa
siswa yang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang
masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya (mode of work).
Dengan menghadapi aspek dari lingkungan, siswa akan membentuk suatu struktur
atau model. Dengan model tersebut dapat disusun hipotesis, untuk memasukkan
pengetahuan baru kedalam struktur-struktur, dengan memperluas struktur-struktur
itu atau dengan mengembangkan struktur atau sub struktur baru.
Bruner menyebutkan dalam belajar terdapat hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan
menjadi suatu struktur yang memberikan arti. Dalam proses interaksi dengan
lingkungan maka siswa mengembangkan model dalam (inner mode) atau sistem
koding untuk menyajikan pengetahuan sebagaimana yang diketahuinya.
Menurut Bruner, kategorisasi dapat membawa siswa ke tingkat yang lebih tinggi
dari pada informasi yang diberikan. Siswa menentukan objek-objek itu dengan
suatu kelas/kelompok. Bila siswa mengklasifikasikan suatu objek, maka siswa
membuat sekumpulan sifat-sifat, atribut-atribut dan hubungan-hubungan. Siswa
melakukan hal tersebut melalui inferensi, menemukan lebih banyak mengenai
segala sesuatu tentang objek tersebut.
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga
proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah: (1)
memperoleh informasi baru (2) tranformasi informasi, dan (3) menguji relevansi
dan ketepatan pengetahuan.
Informasi baru dapat merupakan penghalusan
dari informasi sebelumnya yang dimiliki siswa, atau informasi itu dapat
bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang
dimiliki siswa.
Dalam transformasi
pengetahuan, seorang siswa memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai
dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara siswa memperlakukan
pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah menjadi
bentuk lain. Siswa menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan dengan menilai
apakah cara siswa memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.
Bruner menyebutkan
pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme
instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu (1) pengetahuan
siswa tentang lingkungannya didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang
dibangunnya dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan
siswa, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan siswa yang
bersangkutan.
Persepsi siswa
tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Dalam proses ini,
siswa menyusun suatu hipotesis dengan menghubungkan data inderanya pada
model-model yang telah disusunnya, lalu menguji hipotesisnya terhadap
sifat-sifat tambahan dari peristiwa itu. Siswa itu tidak dipandang sebagai
organisme aktif yang pasif, tetapi sebagai seorang yang memilih informasi
secara aktif dan membentuk hipotesis perseptual.
e. Teori Belajar
Bermakna (Ausubel)
Ausubel
mencetuskan gagasan belajar penerimaan verbal bermakna (meaningful verbal
reception learning). Ausubel menyatakan bahwa cara belajar ini merupakan
proses yang aktif karena meliputi: (1) analisis kognitif untuk menentukan aspek struktur
kognitif yang berhubungan dengan materi baru, (2)penyesuaian materi
baru dengan struktur kognitif yaitu mengetahui persamaan dan perbedaan antara
konsep baru dan konsep yang sudah diketahui
sebelumnya, dan(3) perumusan kembali materi belajar sesuai
dengan latar belakang intelektual serta kosa kata yang dimiliki oleh siswa.
Dalam
teori belajar bermakna, dasar pemikiran utama adalah bahwa konsep/informasi
baru harus berhubungan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif,
oleh karena itu, Ausubel menjelaskan faktor utama yang mempengaruhi belajar
bermakna dan penyimpanan informasi adalah struktur kognitif itu sendiri. Bila
struktur kognitif ini jelas, mantap dan tersusun dengan baik akan timbul
pemahaman yang tepat dan jelas yang dapat mempertahankan kekuatan atau
keberadaannya. Sebaliknya, bila struktur kognitif tidak tersusun dengan baik,
hal ini akan menghambat belajar bermakna dan penyimpanan informasi baru.
Ausubel menjelaskan cara terbaik untuk
memperkuat struktur kognitif adalah dengan menggunakanadvance organizersyang
sesuai serta jelas. Advance organizers ini dapat membantu
siswa dalam mempelajari konsep dari materi baru secara bermakna dengan
menghubungkan konsep tersebut dengan aspek yang sesuai dari struktur kognitif
siswa. Dengan kata lain, advance organizersdapat mengaktifkan
serta menguatkan struktur kognitif siswa dengan menitikberatkan pada
aspek-aspek yang berhubungan dengan konsep dari materi baru untuk
dijadikan ideational scaffoldin
C.Tugas-tugas pokok perkembangan dapat dibagi berdasarkan aspek perkembangannya. Berikut tugas-tugas
perkembangan berdasarkan aspek perkembangan dilihat dari tingkat
perkembangannya:
1. Tingkat
perkembangan bayi
a. Motorik : belajar berjalan;
berbicara
b. Mental :
pembentukan konsep-konsep sederhana tentang realitas lingkungan sosial maupun
fisik
c. Sosial : belajar untuk
berhubungan dengan orang lain
2. Tingkat
perkembangan anak-anak
1. Motorik
: Mengembangkan dan mempersiapkan keterampilan fisik
2. Mental
: Perkembangan keterampilan mendasar dalam membaca, menulis dan berhitung
3. Sosial
: Mulai adanya kerjasama dengan kelompok sebaya
3. Tingkat
perkembangan adolesensi
1. Motorik
: Pertumbuhan menjadi cepat dan perubahan fisik pada masa pubertas
2. Mental
: Perkembangan keterampilan dalam persiapan karier
3. Sosial
: Secara emosional anak lebih bebas dari orang tuanya karena adanya hubungan
baru dengan kelompo sebayanya
4. Tingkat
pertumbuhan dewasa awal
a. Mental
: memulai mengenali jabatan dan peranan dalam masyarakat
b. Sosial
: mulai membentuk gaya hidup orang dewasa, dapat menentukan lawan jenis dalam
kelompok sosialnya
D. Pemahaman
terhadap Perkembangan Pribadi Anak
Pemahaman dunia anak bukan sebagai
makhluk biologis, malainkan sebagai makhluk psikis dan spiritual.
Secara umum perkembangan kehidupan
anak dapat dibagi ke dalam periodisasi sebagai berikut:
1. Anak bayi (0-1
tahun)
Pada periode ini anak menggunakan
kemampuan lahiriah (insting) seperti sosial, sebagai alat untuk memungkinkan
anak berkomunikasi dengan lingkungannya; meniru, yaitu anak suka meniru
perbuatan orang-orang terdekatnya sebagai proses belajar;
refleks, yaitu suatu reaksi otomatis dari
bagian-bagian badan tertentu bila terkena rangsangan; kemampuan belajar,
meningkatkan keterampilan yang menyangkut
gerak-gerik badan serta anggota badan lainya seperti
tangan dan kaki; dan potensi perluasan dunia, yaitu penjelajahan ruang; serta
perkembangan bahasa.
2. Kanak-kanak (1-5
tahun)
Usia pra sekolah sebagai periode
peralihan dari bayi ke usia anak sekolah. Periode ini mempunyai tiga ciri khas
yang tidak terdapat pada periode lain, yaitu perkembangan emosi kegembiraan
hidup, kebebasan dan fantasi. Selain itu, pada periode ini berkembang pula daya
penginderaan dan perkembangan bahasa.
3. Anak
sekolah (6-12 tahun)
Periode ini
oleh Kohnstamm disebut periode “intelektual” karena sebagian besar waktu
dipergunakan untuk pengembangan kemampuan intelektualnya. Anak pada umur ini
mudah melaksanakan tugas yang diberikan dan apabila mereka berada pada
lingkungan yang baik, akan mudah belajar berbagai kebiasaan. Namun, apabila
pada usia ini terjadi kesalahan pendidikan akan timbul berbagai masalah
perilaku.
4. Remaja
atau adolensensi (12-18 tahun)
Kohnstamm
menyebut periode ini sebagai periode sosial karena dalam masa ini anak
mempunyai minat pada hal-hal kemasyarakatan. Pada masa ini, remaja sangat
menonjol perkembangan hormon sexnya sehingga mulai tertarik pada lawan jenis.
Bersamaan dengan itu, anak juga mengalami pertumbuhan jasmani yang cepat. Dalam
perkembangan moralnya, anak mulai mengenali nilai-nilai rohani.
2.7 Makna
Belajar
Belajar
sudah sudah tak asing lagi kita degar dikalangan pelajar.Belajar selalu kita lakukan,tapi
kita belum mengetahui makna,apa itu belajar ?.Beberapa ahli mendefinisikan arti belajar, diantaranya :
1. WJS Poerwadarminta (1953),dalam
kamusnya menyatakan belajar adalah berusaha
(berlatih dan sebagainya) supaya memperoleh suatu kepandaian Dan bila dilacak dari kat dasarnya “ajar”, maka “belajar” diberi arti :
a. Berusaha supaya beroleh
kepandaian ( ilmu ) dengan menghapal (melatihdiri),seperti dalam “belajar
membaca”atau”belajar ilmu pasti”
b.
Berlatih,misalnya dalam“belajarberenang”dan“belajar berkenalan”
2.
Ernest R.Hilgard (1948),menyatakan learn is the proccess by which an activity originate or is a change through
training procedures (whether in the laboratorynor in the natural environment)
as distinguished fromchange by factors not attributable to training
3. Cronbach,1954.learn is shown by a
change in behavior as a result of experience 4.
Witherington menjelaskan belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai
suatu pola baru dari reaksiyang berupa kecakapan,sikap,kebiasaan,kepandaian,atau
suatu pengertian.
Dari
pendapat diatas, agaknya makna belajar hampir semua sama dipertalikan dengan “
proses perubahan” .perubahan dalam hal apa ?
a.
Aspek Pengetahuan
b.
Aspek Sikap/Kemauan
c.
Aspek Perilaku,Praktek,dan Ketrampilan
d. Perubahan pada aspek kinerja
untuk kerja / performance
Hasilnya untuk sementara dapat
dirangkum menjadi satu :
Belajar
adalah proses pertumbuhan atau perubahan agar tahu,agar mau,agar bisa dan
agarberhasil.Atau dengan menempatkan manusia sebagai titik sentral dari proses
pembelajaran,maka pengertian belajar mungkin juga bisa dipahami sebagai proses perubahan dan atau pertumbuhan manusia
dari keadaan yang potensial (human being) menjadi aktual ( being human ) atau
proses pemanusiawian manusia agar ia menjadi manusia sepenuhnya ( fully human
being Dengan memperhatikan pengertian diatas tidak terlalu aneh jika sebagian ( besar?)
anggota masyarakat mempersamakan begitu saja kata “ belajar”dengan
“sekolah”.Bukankah “sekolah” umumnya dari ( dari tingkat sd sampai universitas)
dipahami sebagai tempat “belajar”dalam arti memperoleh ilmu pengetahuan
alam,sosial,dan lainnya,secaraformal ? “Belajar”juga dipersamakan dengan
“kursus” dan “pelatihan” dalam arti berlatih untuk memperoleh keterampilan
tertentu,baik yang bersifat teknis seperti kursus komputer, maupun yang
non-teknis seperti pelatihan komunikasi dan manajemen,yang sifatnya
non-formal.Masalahnya, dengan mempersamakan begitu saja makna “belajar” dengan
proses pendidikan yang bersifat fomal dan non-formal,kita bisa melupakan sama
sekali dimensi informal dari pendidikan yang justru paling penting dan merupakan
dasardari keduanya.
Karena
itu untuk mudahnya saya mengusulkan agar kata “belajar” kita pahami dalam
sedikitnya empat arti,yakni : pertama,mengejar pengetahuan diri sebagai manusia
(learning to be);kedua,memperkuat solidaritas dan tali silahturami sebagai
makhluk
sosial ( learning how to live
together );ketiga,meningkatkan pengetahuan(learning how to think and learn);dan
keempat,meningkatkan keterampilan (learning how to do).
Arti
pertama dan kedua menunjukan pada dimensi informal ( baca : pendidikan),yakni
proses pembelajaran diluar lembaga-lembaga formal maupun non-formal.Arti ketiga
menujuk pada dimensi formal (baca : pengajaran),dan arti terakhir menujukkan
pada dimensi non-formal ( baca : pelatihan).Jadi,”belajar” yang sesungguhnya
tidak dapat dan tidak mungkin dimonopoli sepenuhnya oleh lembaga-lembaga
persekolahan yang formal itu.Tidak juga cukup bila ditambahkan dengan
pelatihan-pelatihan dilembaga
non-formal,tetapi harus berbasiskan keluarga
dan masyarakat dimana hubungan antar pribadi berlangsung secara
informal.Manajemen pendidikan berbasiskan sekolah mungkin penting,namun hal itu
hanya merupakan sebagian dari proses pembelajaran dan pendidikan dalam artinya
yang lebih dalam.
Keempat
makna belajar diatas itulah yang membuat saya berkeyakinan bahwa pada
hakikatnya manusia itu dilahirkan pertama-tama sebagai makhluk pembelajar.Ia
adalah satu-satunya makhluk yang dapat dan memang haru s”belajar”.Hal itu saya
tegaskan dengan menggunakan istilah “manusia pembelajar” dan dalam buku
menjadi
Manusia pembelajar (kompas, 2000),istilah
“manusia pembelajar”itu saya definisikan sebagai : setiap orang yang bersedia
menerima tugas dan tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting ,yakni : berusaha mengenali
hakikat dirinya,potensi talentadan bakat-bakat terbaiknya,dengan selalu
berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang berapa pertanyaan eksistensial
“seperti siapakah aku ?” dan lain-lain.kedua ,berusaha sekuat tenaga untuk
mengaktualisasikan segenap
bakat-potensi-talenta-nya itu,mengekspresikan dan menyatakan dirinya
sepenuh-sepenuhnya,seutuh-utuhnya,dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak
untuk dibanding-bandingkan dngan segala sesuatu yang’bukan dirinya”
Tugas dan tanggung jawab pertama diatas
membawa setiap pribadi pada perenungan diri agar ia menyadari keberadaan nya
sebagai “apa” dan “siapa”. Tugas dan tanggung jawab kedua diatas membawa
manusia untuk menampilkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri sekaligus saling
bergantung dengan lingkungan hidup di sekitar nya. Dan “belajar” dalam konteks
ini tak lain adalah mengusahakan agar tampilan kepribadian itu mencerminkan
hakikat atau jati diri manusia itu.
Tugas
dan tanggung jawab kedua tersebut melekat pada keberadaan manusia pribadi .
Takbisa, dan memang tidak mungkin, ia mendelegasikan hal itu kepada pribadi
atau pihak lain yang bukan dirinya. Sebab saya menyetujui pandangan yang
mengatakan bahwa menurut kodrat nya, manusia memang memiliki tugas untuk
membentuk dirinya sendiri. Dan karena ia pada dasarnya adalah unfertiges wesen,
makhluk yang tidak siap, maka ia perlu belajar dalam arti mempersiapkan dirinya
untuk tugas memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Dan belajar dalam hal ini
merupakan proses mengalami “ metanoia” paradigma repentance “alias pertobatan
secara moral spiritual”. Belajar bukan hanya sekedar memperoleh ilmu
pengetahuan, meski itu sangat penting. Belajar bukan sekedar meningkatkan
keterampilan meski itu juga penting.
Pada
titik ini kita mungkin dapat memahami mkna yang lebih dalam dari belajar. “belajar”
tak lain adalah proses pemanusiawian diri sendiri dan sesama secara serentak.
Belajar adalah proses mengakui kesalahan dan bersedia meninggalkan yang salah
dengan cara berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Bahwa untuk itu diperlukan
pengetahuan dari lembaga-lembaga pengajaran formal sudah pasti diperlukan
keterampilan atau skill yang bisa diperoleh lewat pembelajaran dalam suasana
informal, pertama-tama dikeluarga dan kemudian dalam masyarakat disitulah
karakter seseorang dibentuk.
Jadi, makna belajar adalah perubahan yang
relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau latihan yang diperkuat. Arti dan makna pembelajaran ialah
membelajarkan siswa menggunkan ases pendidikan maupun teori belajar merupakan
penentu utama keberhasilan pendidikan. Mempelajari dalam arti memahami
fakta-fakta sama sekali berlainan dengan
menghafalkan fakta-fakta. Keberhasilan suatu program pengajaran diukur
berdasarkan tingkatan perbedaan cara berfikir, merasa dan berbuat para pelajar
sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman-pengalaman belajar dalam menghadapi
situasi yang serupa. Dengan kata lain, bila
suatu kegiatan belajar telah berhasil, maka seharus nya berubah pula cara-cara
pendekatan pelajar yang bersangkutan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya.
Untuk menangkap isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu
menggunakan kemampuam pada rana kognitif,
yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran, atau
pikiran yang terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis,
sintesis dan evaluasi. Yang kedua yaitu pada rana avektif, yaitu kemampuan yang
mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran
yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian, sikap,
organisasi dan pembentukan pola hidup, dan yang terakhir pada ranah
psikomotorik, yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri
dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, dan kreativitas.
Orang dapat mengamati tingkah laku orang telah belajar setelah membandingkan
sebelum belajar. Dengan belajar dari ketiga ranah tersebut maka akan makin
bertambah baik berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Berhasil
atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses
belajardan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu
disekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.
Tiap ahli psikologi memberi batasan yang berbeda tentang
belajar, atau terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan
makna belajar.
Diantaranya dapat
dikemukakan yaitu, Hilgared dan Markuis berpendapat bahwa belajar merupakan
proses mencari ilmu yang terjadi pada diri seseorang melalui latihan,
pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri seorang
pendidik.
Pendidikan
merupakan salah satu proses yang sangat penting bagi manusia. Maka dari itu
pendidikan itu pendidikan itu dimulai dari usia dini sampai akhir hayat. Suatu
pendidikan itu pasti ada metode dan penggolongan-penggolongan untuk usia atau
tingkatan.
Saat
ini, teori yang digunakan dalam pendidikan sudah sangat berkembang mengikuti
zaman yang semakin modern. Begitu juga pemikiran-pemikiran pada cendikiawan dan
ilmuan yang setiap hari tak henti-henti menentukan ide-ide baru yang
mempermudah dan membantu kehidupan manusia menjadi yang lebih baik.
Untuk
itu perlu pemahaman dalam memahami perkembangan, tahap, teori maupun
aspek-aspek yang terkandung dalam pendidikan. Agar bisa mencapai tujuan dan
maksud dari pendidikan itu sendiri. Dan dengan cara belajar maka perilaku akan
relatif berubah sebagai hasil dari pengalaman.
Teori
belajar behavioristik atau dikenal juga dengan aliran tingkah laku memaknai
belajar sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi
antara stimulus dan respon. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada
faktor-faktor yang diberikan lingkungan. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran
behavioristik adalah Thorndike, Pavlop, Watson, Hull, Guthrie dan Skinner.
Teori belajar kognitif, memaknai belajar tidak hanya sekedar melibatkan
hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar adalah melibatkan
proses berpikir yang kompleks. Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya
sangat menentukan hasil belajar. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran
kognitif adalah Koffka, Kohler, WertheimerPiaget, Ausubel, Bruner dan
Gagne.
Teori belajar humanistik, memaknai proses belajar dilakukan dengan
memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu. Siswa diharapkan
dapat mengambil keputusannya sendiri dan bertanggung jawab atas
keputusan-keputusan yang dipilhnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran
humanistik adalah Kolb, Honey dan Mumford, Habermas, Vygotsky, Rogers.
Teori belajar konstruktivistik memaknai belajar sebagai proses pembentukan
(kontruksi) pengetahuan oleh siswa itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri
seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari
guru kepada siswa
Teori
Belajar Cybernetisme memandang otak manusia aktif memproses
informasi, namun manusia aktif mencari bukan hanya pasif menerima. Peserta
didik menangkap rangsangan melalui panca indranya, baik dalam bentuk obyek
benda, data, maupun peristiwa kemudian memperhatikan atau mengabaikan, memilih
sebagian atau menerima seluruhnya, dan membuat reaksi dengan membuat
respons-respons.
Gredler, Margareth E.,
2011, Learning And Instruction: Teori dan Aplikasi, terjemahan
Tri Wibowo, B.S., Jakarta, Kencana.
Schunk, Dale H., 2012, Learning
Theories, an Perspective 6th editions, Boston, Pearson
Education, Inc.
Woolfolk, Anita, 2004, Educational
Psychology, 9th editions, Boston, Pearson Education, Inc.
Miarso, Yusufhadi, 2009, Menyemai
Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, Kencana,.
Hergenhahn, B.R., dan Olson, Matthew H., 2008, Theory Of Learning, Jakarta,
Kencana.
Zaini, Landasan Pendidikan, Yogyakarta: Mitsaq Pustaka, 2011.
Maunah,
Binti, Landasan Pendidikan,Yogyakarta:
Teras, 2009.